Pencak Silat Merangkul Negeri

oleh
oleh
Pencak Silat Merangkul Negeri

MACCANEWS- Tiba saatnya negeri ini dibikin haru biru. Cekcok politik berhenti sejenak. Para pencela tak bisa berkata. Mereka hanya melongo: Kok bisa?

Arena laga final pencak silat Asian Games menjadi sumbernya. Hanifan Yudani Kusumah aktornya. Ia salah satu pesilat yang berhasil persembahkan medali emas untuk Indonesia.

Tapi bukan emas itu yang istimewa. Aksi spontan selebrasinya yang membuat orang se Indonesia baper semua. Berkalung merah putih, ia merangkul Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto dalam pelukan.

Wow…semua orang bersorak. Tidak hanya Wapres Jusuf Kalla yang ada di sampingnya. Juga Megawati Soekarnoputri. Juga penonton di tempat laga. Sampai pemirsa TV di mana-mana.
The Biggest Moment of the Year. Momen terbesar tahun ini. Tahun politik. Dua calon presiden yang akan bertarung berangkulan di arena silat. Bersorak dan bercengkerama bersama.

Peristiwa itu menjadi peristiwa haru biru nasional. Sebab, sejak lama para pendukungnya saling cakar-cakaran. Membela pujaannya. Sampai keterlaluan. Kadang hingga bisa mengancam persatuan.

Dari peristiwa itu saya percaya. Sesungguhnya bangsa ini adalah bangsa yang gampang disatukan. Tentu jika para pemimpinnya mau bersatu. Bangsa yang sangat gampang diberi teladan. Bukan bangsa yang suka perang antar sesama.

Peristiwa Jokowi-Prabowo berangkulan di depan publik membuat para pengadu domba menjadi lucu. Membuat pemimpin yang suka berkata kasar dan mengancam menjadi wagu. Ah, mereka bisa kehilangan pekerjaan.

Pertarungan Elit

Sejarah membuktikan, setiap gejolak di negeri ini sebetulnya bersumber dari pertarungan elit. Dari zaman kerajaan sampai kemerdekaan. Dari jaman Nusantara sampai Republik Indonesia.
Rakyat bertarung antar sesama karena ada yang ngipas-ngipasi. Ada yang menyulut api di antara mereka. Tengoklah peristiwa 1948 di Madiun, pembantaian massal 1965, sampai dengan berbagai kerusuhan menjelang reformasi 1998.

Mulainya selalu dari pertikaian verbal para pemimpin. Melontarkan kata-kata kasar, memberikan label untuk para lawan politiknya, sampai dengan menciptakan situasi perkelahian. Bahasa intelijennya: Bulsit (menimbulkan situasi).

Pertikaian politik di Indonesia selalu bermula dari pertikaian elit. Tak ada yang murni dari rakyat. Mereka seringkali hanya menjadi alat. Menjadi pion yang digerakkan untuk kepentingannya. Terkadang tak berpikir panjang kerugian yang diakibatkannya.

Paska reformasi politik kericuhan rakyat pernah terjadi. Ribuan orang berbondong-bondong ke Jakarta. Ingin mempertahankan junjunganya yang hendak dilengserkan. Namanya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Presiden terpilih pertama setelah Presiden Soeharto, penguasa Indonesia selama 32 tahun.

Waktu itu, Amien Rais menjadi Ketua MPR RI. Dia yang mendorong Gus Dur jadi presiden. Karena dia tak ingin Megawati Soekarnoputri yang tampil. Tapi, belum 5 tahun, Amien Rais juga yang memimpin pelengseran Gus Dur. Diberhentikan sebagai presiden di tengah jalan.

Ini yang membuat warga Nahdliyin tersulut amarah. Muncul pasukan berani mati. Ratusan bus merangsek ke Jakarta hendak melawan keputusan politik itu. Bayangkan apa yang terjadi kalau mereka benar-benar meluapkan amarah karena junjunganya dilengserkan.

Untung Gus Dur berjiwa negarawan. Ia tak mau ada pertumpahan darah. Dengan celana kolor dia temua massa di depan istana. Minta mereka pulang. Ia rela lengser dari jabatannya. Ia tak mau mempertahankan kekuasaan yang bisa membuat rakyatnya berdarah-darah. Tak mau bangsanya terlanda peranb saudara.

Karena itu, ketika para pemimpinnya bersatu, maka gejolak bisa diredam secepat kilat. Begitu Jokowi dan Prabowo berangkulan, pertikaian di dunia maya berubah jadi puji-pujian. Adem. Entah sampai kapan suasana seperti ini bisa berjalan.

Momen Kebudayaan

Olah raga bisa menjadi momen kebudayaan. Momen kontestasi yang bisa menyatukan. Bahkan menyatukan pertikaian politik yang sedang berlangsung.

Kali ini, cabang olahraga yang bisa memainkan peran kebudayaan menyatukan bangsa adalah pencak silat. Wow…ini cabang olahraga asli Indonesia. Yang lahir dan tumbuh di Nusantara.
Bukan karate, taekwondo, wushu dan segala jenis olahraga seni bela diri lainnya. Wikipedia menyebut pencaksilat sebagai seni bela diri tradisional yang berasal dari Kepulauan Nusantara.

Disebutkan juga, pencaksilat merupakan olahraga bela diri yang memerlukan banyak konsentrasi. Ada pengaruh budaya Cina, agama Hindu, Budha, dan Islam dalam pencaksilat. Cabang ini mulai dipertandingkan di SEA Games sejak 1987.

Tindakan Hanifan merangkul dan menyatukan Jokowi-Prabowo setelah meraih emas dilakukan secara mengejutkan. Namun, dibalik itu, ia punya maksud yang sangat mulia. Saya yakin, yang dipikirkan mewakili mayoritas warga bangsa Indonesia.

“Saya melakukannya biar masyarakat Indonesia semua tahu bahwa tidak ada masalah apa pun antara Jokowi dan Prabowo. Itu saja. Hanya ada segelintir orang yang tak suka terhadap kesuksesan mereka,” ujarnya.

“Sebagai insan pesilat Indonesia, saya ingin memperlihatkan silaturahmi mereka. Jadi kita semua harus menjaga hati. Kita ini satu bangsa satu negara. Masa harus terpecah belah karena hal yang tidak penting,” tambahnya.

Mengharukan! Tanpa kata-kata Hanifan seperti ini, saya pun sudah haru. Juga banyak rakyat Indonesia. Melihat Jokowi, Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, dan sejumlah menteri sepanggung saling senyumpun sudah bikin air mata menetes. Apalagi menyaksikan Jokowi-Prabowo yang sedang bertarung di arena politik berangkulan.

Jokowi dan Prabowo telah mengabaikan gengsi dan saling tikainya demi kebanggaan bangsa. Mereka secara tidak langsung telah meniru Gus Dur yang mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kekuasaan demi persatuan bangsa. Mengademkan pendukung mereka yang saling bertikai keras di lapangan maupun dunia maya.

Jadi, siapa pun bisa berperan menjadi pemersatu bangsa. Hanifan yang pesilat telah melahirkan momen budaya yang membuat jutaan orang berdecak. “Indonesia kita. Jalan kebudayaan. Jangan pernah kapok menjadi Indonesia,” kata seniman Butet Kertarejasa di timelinenya.

Itok Isdianto menimpalinya dengan jenaka. “The Brilian Hanifan ya Den Butet Kertarejasa, atas idenya yang uasuoookkk…(pujian bukan pisuhan),” katanya.

Momen kebudayaan telah tercipta lewat Hanifan. Aktor utamanya Jokowi dan Prabowo. Masak Cebonger dan Kampreter tak akan mengikuti jejak ini. Kalau tidak…ya memang mereka tak ingin Indonesia menjadi bangsa besar lagi. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.