Pengamat Sarankan Paslon di Pilkada Makassar Legowo

oleh
Pengamat: Lawan dan Laporkan Politisasi Program Kementan di Pilgub Sulsel

MACCANEWS- Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Ali Armunanto, menilai, sebaiknya paslon tunggal pada pilwalkot Makassar legowo dan menerima kekalahan.

Menurut Andi Ali Armunanto, orang yang mengalami kekalahan tentu tidak menerima begitu saja kekalahan. Mereka pasti akan mengupayakan jalan untuk bisa mendapatkan keuntungan dari situasi yang ada.

Namun, secara pendidikan dan etika politik, hal itu menjadi tidak bagus, karena itu tidak memberikan contoh yang baik pada masyarakat. Padahal, seharusnya seorang elit memberikan pendidikan politik yang baik ke masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah dengan kesediaan menerima kekalahan dalam pertarungan politik.

“Mereka kan menjadi contoh di masyarakat, nah kalau mereka tidak menunjukkan sikap yang baik ke masyarakat, kita khawatir kedepannya demokrasi yang kita praktekkan dianggap sebagai hal yang main-main. Bahwa demokrasi apapun hasilnya tetap bisa digugat, sehingga masyarakat akan meragukan proses demokrasi itu sendiri,” paparnya, Selasa (10/7/2018).

Dia menambahkan, seharusnya Appi Cicu dan timnya menunjukkan kedewasaan berpolitik. Juga menunjukkan penghargaannya kepada proses yang dilaksanakan oleh lembaga penyelenggara pemilu.

“Kalau semua orang berpikir setiap pemilu adalah kecurangan setelah mereka kalah, lalu menyalahkan proses dan penyelenggara, saya pikir sampai kapanpun kita tidak akan berhenti ribut,” lanjutnya.

Bukan hanya itu, jika itu terus berlanjut, dia menilai, sampai kapanpun kepercayaan terhadap penyelenggara pemilu tidak akan bagus.

Namun, jika elit politik memberi contoh yang bagus pada masyarakat, kedepannya citra lembaga penyelenggara, yakni KPU dan Panwaslu akan semakin baik.

Andi Ali Armunanto menyarankan agar Appi-Cicu beserta timnya legowo mengakui kekalahan, serta menyiapkan langkah politik selanjutnya. Karena hal itu akan lebih bagus untuk pencitraan Appi-Cicu ke depannya.

“Itu akan membuat masyarakat menjadi lebih mudah menerima mereka kembali untuk langkah-langkah politik selanjutnya. Jangankan 2020, 2019 pada pileg dan lain-lain,” imbuhnya.

Efek positif itu bahkan bukan hanya akan dirasakan oleh Appi-Cicu, tetapi juga politisi dan anggota dewan yang ada dalam barisan Appi-Cicu. Khususnya untuk meraih simpati masyarakat.

“Kalau terus-terusan mempertontonkan hal-hal yang seperti ini, bukan tidak mungkin imbasnya juga ke anggota dewan misalnya Rahman Pina, Busranuddin Baso Tika, dll, akan terkena imbas kejengkelan masyarakat, dan bisa-bisa tidak dipilih lagi pada pileg 2019,” pungkasnya. (*)