Pengamat Ini Berbagi Tips Gaet Pemilih Perempuan

oleh
Pengamat Ini Berbagi Tips Gaet Pemilih Perempuan

MACCANEWS- Pada Pemilu 2019, jumlah pemilih perempuan lebih banyak dibanding pemilih laki-laki.

Berdasarkan data sementara yang dirilis KPU, ada 93.166.615 pemilih perempuan, sedangkan pemilih laki-laki berjumlah 92.213.263 orang.

Pengamat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Irine Hiraswari Gayatri, mengatakan, untuk menarik pemilih perempuan, penting bagi pasangan calon presiden-calon wakil presiden mengkampanyekan program yang akan berdampak positif pada perempuan.

“Misalnya, persoalan tentang cuti hamil, pokoknya hal yang berdampak pada kehidupan perempuan sebagai warga negara, stabilitas harga pokok, infrastruktur di ruang publik, (keamanan) berkendara, itu juga penting”, jelas Irine dalam diskusi di Jakarta, Minggu (22/7/2018).

“Kalau saya sebagai pemilih, saya ingin lihat oh dia memperhatikan soal taman-taman kota secara nasional, dibuat program nasional”, tambahnya.

Irine memberi contoh kesuksesan Presiden Joko Widodo dalam menggaet pemilih perempuan saat kampanye Pilpres 2014.

“Kemarin waktu pilpres, program Presiden Jokowi mengena pada ibu-ibu karena salah satunya hak-hak reproduksi, isu kesehatan reproduksi, dan tenaga kerja perempuan di luar negeri,” ujar Irine.

Menurut dia, jika capres-cawapres merupakan seorang petahana, strategi yang dapat digunakan terletak pada kinerja sebelumnya.

Mereka memiliki kelebihan karena dapat menjabarkan rekam jejak secara riil, seperti pencapaian, program yang masih dalam proses, dan hal yang perlu ditingkatkan.

Sementara itu, bagi pasangan yang bukan petahana, Irine berpendapat, mereka lebih memiliki kebebasan saat menciptakan program.

Namun, ia mengingatkan, pentingnya membaca situasi sosiologi masyarakat dan tidak membuat program yang aneh-aneh.

“Program kalau untuk non-incumbent, menurut saya dimensinya mempertimbangkan partisipasi publik untuk terlibat dalam pencapaian program”, ujarnya.

Terakhir, ia berkali-kali menegaskan kepada capres-cawapres yang akan bertarung nanti agar tidak menggunakan strategi SARA dalam konstestasi pilpres nanti. (*)

Sumber: kompas.com