‘KOKO, Danny dan Magnet Baru Sulsel’

oleh
‘Perjalanan Panjang Demokrasi Makassar Usai’

Penulis : Iqbal
(Wkl. Ketua Grind Perindo Sulsel)

Akhirnya, proses pemilihan walikota Makassar berakhir dengan keputusan KPUD Makassar yang memenangkan Kolom Kosong dengan presentase 53,23% yang mengalahkan paslon tunggal Appi – Cicu yang memperoleh 46,77% suara.

Perjalanan panjang prosesi pilwakot Makassar cukup menyerap energi dan fikiran, dan juga proses yang begitu dinamis.

Yang awal pada penetapannya, KPU menetapkan 2 paslon kontestasi Pilwakot yakni APPI – CICU dan Danny – Indira. Dalam perjalanannya, di pertengahan ada hal yang luar biasa sehingga paslon Danny – Indira harus digugurkan. Sebagian masyarakat Makassar kaget dan terherankan dengan keputusan tersebut.

Pilwakot Makassar pun semakin unik, dengan gugurnya Danny – Indira berarti menyisakan paslon tunggal saja, akan tetapi lebih memanggil masyarakat dalam mengawasi jalannya proses demokrasi.

Rasa iba masyarakat Makassar terpanggil dengan kondisi Danny Pomanto yang terzhalimi, dan semakin memunculkan upaya-upaya masyarakat dalam memenangkan Kolom Kosong (KOKO).

Dukungan 10 partai politik kepada paslon tunggal juga tak mampu mempengaruhi masyarakat secara maksimal dalam memenangkan usungannya.

Kecintaan masyarakat Makassar terhadap sang Walikota Makassar Danny Pomanto yang terlanjur tinggi membuat masyarakat bersatu berbondong untuk lebih memilih KOKO daripada paslon tunggal.

Yah itulah pilihan, itulah hasil akhir dari sebuah event demokrasi yang akhirnya 53% lebih masyarakat lebih memilih KOKO.

Terlepas dari itu, sosok Danny Pomanto kita akui ataupun tidak adalah magnet perpolitikan baru di Sulawesi selatan. Efek Danny memberikan warna tersendiri bagi masyarakat di Sulsel dan masyarakat Makassar pada khususnya.

Kini semuanya telah usai, mari kita kembali mengawal pemerintahan Danny yang dikenal inovatif ini untuk tetap menjaga agar Makassar tidak mundur lagi.