Bertarunglah Dengan Penuh ‘Cinta’

oleh
Bertarunglah Dengan Penuh ‘Cinta’

oleh: Syaifuddin Al Muqniy

Tulisan ini bukanlah tulisan populer seperti “Ghost Fleet”, tak semashur pesan bijak Khalil Gibran, Dalai Lama, Michel Angelo, dan sederet penulis, penyair dan sastrawan. Tulisan ini semata “penglihatan genit” sang penulisnya melihat fenomena sosial yang akhir-akhir ini diseruduk oleh agency of power (agen kekuasaan).

Tentu sangat berbeda dengan karya Jared Diamond dalam karyanya Collapse, sebuah anasir “kehancuran peradaban” akibat revolusi ilmu pengetahuan yang tak terkendali. Di sisi yang lain, Samuel P. Huntington dalam “Benturan peradaban” yang disorot antara timur dan barat.

Perkembangan saintek pada prinsipnya adalah takaran bagi kemajuan manusia dan kebudayaannya (baca; Kuntjaraningrat). Kebudayaan menurutnya adalah tabiat, perilaku sekaligus etika dan estetika yang berotasi pada lingkungannya sebagai identity locally.

Namun pada suasana tertentu, realitas ini kemudian tergerus akibat hoax, hate specch, radikalisme, serta posisi agama atau agama sebagai oposisi. Kenyataan ini terus bergerak dan bersoal pada hal-hal yang tidak prinsipil. Hingga soal politik yang cendrung saling menyerang, menyudutkan, fitnah dan ujaran kebencian.

Agak sulit kita menemukan politik yang elegan, berkarakter sebab “wacana” dikonstruk untuk menghadirkan kebencian dan black campaign. Lalu kalau begitu di mana ajaran demokrasi itu? dan bukankah politik itu bagian dari hidup berdemokrasi?.

Dalam sebuah film yang berjudul Wonder Woman, pertarungan dan peperangan yang tak pernah usai. Tetapi ada pesan yang bisa ditangkap dalam dialog itu, bahwa perang sulit dihindari, saling membunuh, menyerang, bertarung sampai ada yang menyerah, tetapi Diana (pemeran perempuan) dalam film ini, ia bilang kalau semua hancur dalam peperangan tetapi sisakan “cinta” sebab ia tak pernah mati dan punah.

Nah, kalau pesan tersebut di breakdown dalam kehidupan politik kita setidaknya pertarungan tetaplah menjaga hubungan yang baik. Bahasa politik begitu perlu dipanggung politik, namun “sarkasme” minimal tak menghardik nurani kemanusiaan bagi yang lain. Sarkasme tanpa harus melukai.

Oleh sebab itu, karena politik adalah kebijakan maka tindakannya tentu penuh kebajikan (kebaikan). Bertarunglah tanpa kebencian, sebab besok atau lusa seseorang yang engkau benci, bisa jadi akan menjadi sahabat terbaikmu.

Catatan Muhasabah