‘Keutamaan Ilmu’

oleh

MACCANEWS- Ahli ilmu merupakan orang-orang yang pantas dijadikan rujukan sesuai dengan ka pa sitasnya masing-masing. Dalam Islam, para ahli ilmu menguasai dan menjalankan perintah Allah dan Rasulullah. Karena itu, ahli ilmu merupakan orang-orang terpilih.

Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri da lam kajian keislaman dengan tema “Ilmu, Antara Kecerdasan dan Hati” di Masjid Nurul Iman Blok M, Jakarta, Sabtu (17/3), menjelaskan tentang ahli ilmu dan keutamaannya. Selain Nabi Muhammad SAW, banyak ahli ilmu dalam sejarah Islam sampai para ulama saat ini.

Ustaz Muhammad membuka kajian ter sebut dengan sebuah surah al-An ka but ayat 49 yang berbunyi, “Se benarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”

Menurut dia, ada banyak tafsir ten tang ayat tersebut. Ustaz Muhammad mengatakan, Alquran adalah ayat-ayat sangat jelas dimasukkan ke dalam hati orang-orang ahli ilmu. Tentu orang ber ilmu sesuai dengan kadarnya masingma sing. Allah tidak memberikan Alquran kepada orang awam. “Ayat ini (al-Ankabut) adalah ayat menunjukkan keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Kenapa? Karena ayat ini dalil ten tang keutamaan ahli ilmu,” ujar Ustaz Muhammad.

Orang yang berilmu, kata dia, akan dipilih oleh Allah sebagai hamba dekat nya. Itu merujuk kepada dalil yang me nyebutkan tentang keutamaan orang berilmu, yaitu Allah hanya memasukkan ayat Alquran kepada manusia seperti mereka.

Oleh karena itu, ahli ilmu bukan orang sembarangan. Ustaz Muhammad mengibaratkan orang-orang penting atau pejabat tinggi yang tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya. Hanya mereka yang terpilih untuk bisa ber bincang dengan pejabat penting tersebut. Ahli ilmu, lanjut Ustaz Muhammad, harus menjadi kiblat bagi orang awam karena Allah menjadikan ahli ilmu se bagai tempat berlabuh firman-firman- Nya. Al-Qurtubi dalam tafsirnya juga menjelaskan tentang ayat alquran yang dimasukkan kepada ahli ilmu.

Menurut Ustaz Muhammad, ilmu yang dimiliki ahli ilmu membuat mereka dapat membedakan antara firman Allah, wahyu, dalil, ucapan manusia dan setan. Ustaz Muhammad mengatakan, sema kin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin bisa me-mapping diri sen diri. “Kalau sudah bisa mapping maka hidupnya gak akan ditipu oleh setan karena punya ilmu,” katanya.

Ustaz Muhammad menambahkan, pelajaran yang bisa diambil dari surah al-Ankabut ayat 49 tersebut tentang penjelasan Allah bahwa ilmu tempatnya di dalam hati. Ayat tersebut juga selaras dengan ayat Alquran lainnya, seperti surah as-Syu’ara ayat 194 yang berbunyi, “Ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”

Dalam surah tersebut, menurut dia, seseorang yang mempersiapkan hatinya dengan baik akan mudah mendapatkan ilmu dari Allah. Sebab, inti dari ilmu adalah ibadah hati. Oleh karena itu, Ustaz Muhammad mengajar agar tidak mengandalkan kecerdasan otak semata dalam mencari ilmu, tapi juga hati. Ibnu Abbas mengatakan, orang akan bermanfaat bagi mereka yang meng guna kan hatinya dalam meraih ilmu. Hati dan pikiran harus berjalan selaras serta ikhlas dan khusyuk.

Jika hal tersebut tidak mampu dijalankan maka Ustaz Muhammad berpendapat mereka akan gagal dalam proses belajar. Menurut Hasan al-Basri ilmu ada dua antara lain ilmu yang hanya sampai pada lisan. Ustaz Muhammad mengajak umat Islam tak menjadi ahli ilmu yang hanya sampai pada lisan. Sebab, hal ini akan menjadi bumerang pada hari kiamat nanti.

Kemudian jenis ilmu yang kedua menurut Hasan al-Basri adalah ilmu yang ada di dalam hati. Jenis ilmu ini, menurut Ustaz Muhammad, merupakan ilmu yang bermanfaat. Ilmu ini juga yang dianjurkan oleh nabi Muhammad. “Ada banyak orang cerdas ketika tidak memainkan hatinya, tergelincir. Ilmu tanpa keimanan tergelincir,” ujarnya.  (Wan)