Divhumas Polri-Polda Sulsel Gelar Literasi Media

oleh
Divhumas Polri-Polda Sulsel Gelar Literasi Media

MACCANEWS – Biro Multimedia Divisi Humas Polri menyelenggarakan literasi media dengan tajuk “Edukasi Bicara Baik dan Bijak Bermedia Sosial Bersama Polri Guna Menciptakan Kamtibmas Dunia Siber di Sulawesi Selatan” di Hotel Novotel, Jalan Chairil Anwar, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (19/7/2018).

Adapun pemateri kegiatan antara lain dari Biro Multimedia Mabes Polri AKBP Heru Yulianto SIK, Kanit Cyber Crime Polda Sulsel Kompol Hari Agung, dan pakar komunikasi sekaligus dosen Universitas Hasanuddin Dr Aswar Hasan MSi.

Juga hadir dalam acara, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, wartawan, mahasiswa lintas kampus, dan warganet (netizen). Pemuda Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Makassar turut mengikuti kegiatan. Seminar ini digelar oleh bagian diseminasi info digital biro multimedia divisi humas Polri.

Menurut Dr Aswar Hasan, merebaknya hoaks 91,8 persen terkait masalah politik. Selain itu, hoaks juga terkait SARA dan isu kesehatan.

Pihaknya menyampaikan 10 prinsip yang perlu diperhatikan oleh warganet dalam bermedia sosial. “Pertama, ingat keberadaan orang lain. Standar etika di dunia nyata tidak jauh berbeda dengan etika di dunia maya,” kata Aswar.

Kedua, kata Aswar, hindari kebencian berupa menghujat, menghina, dan mempermalukan orang lain. Ketiga, saring sebelum sharing. “Informasi laksana anak panah yang keluar dari busur yang menancap pada sasaran. Kita harus bertanggungjawab pada informasi yang telah disampaikan,” paparnya.

Keempat, lanjut Aswar, netizen perlu selektif dalam berteman. ” Periksa keaslian profil akun yang akan di-add sebagai teman,” katanya.

Kelima, berbahasa yang baik. Sama seperti berbicara, bermedia sosial pun tetap harus sopan dan santun. Ekspresi di media sosial punya implikasi. Tatanan bahasa perlu diperhatikan untuk menjaga harmoni. Keenam, hindari asusila. “Hindari pornoaksi, pornosuara, pornoteks, pornografi, dan termasuk mengirim teks yang berkonotasi seksual,” ujar Aswar.

Ketujuh, wajar dan secukupnya dalam bermedsos. Hindari memamerkan kekayaan dan uang. Kedelapan, awas radikalisme dan terorisme. “Kelompok radikalis aktif menjaring pengikut melalui media sosial. Hati-hati mengakses website radikal,” ucapnya.

Kesembilan, jaga privasi diri dan orang lain. Tidak semua informasi dapat dibagi. Informasi tertentu dapat membuka pintu kriminalitas. Kesepuluh, hindari pertengkaran di media sosial.

Realitas di media sosial, kata Aswar, adalah realitas tangan kedua (second hand reality) atau bukan realitas sebenarnya. (*)